Jejak Lawalangy, Koemo Wuto Sumanomo Liwu

XYLITOL, ZAT ANTI KARIES GIGI

Posted on: Desember 26, 2007

KEGEMARAN anak-anak mengonsumsi makanan yang manis, terutama permen, disebut-sebut sebagai penyebab utama tingginya angka kerusakan dan gigi berlubang. Namun jangan khawatir, kini telah beredar permen yang bukan saja aman, namun secara ilmiah telah terbukti mampu mereduksi terjadinya kerusakan gigi. Ya, apalagi kalau bukan permen yang menggunakan xylitol sebagai pemanis utamanya.

Karakteristik xylitol

Xylitol pertama kali ditemukan oleh Herman Emil Fischer, seorang kimiawan berkebangsaan Jerman pada tahun 1891. Xylitol telah digunakan sebagai pemanis pada makanan sejak tahun 1960-an. Namun demikian, pemanfaatannya untuk perawatan gigi baru digunakan pada era tahun 1970-an di Finlandia. Kala itu para peneliti dari University of Turku menunjukkan hasil penelitiannya yang menyatakan bahwa xylitol dapat mencegah terjadinya karies gigi. Setelah melalui kontemplasi yang cukup panjang pada tahun 1983 JECFA (Joint Expert Committee of Food Additives) milik FAO/WHO merestui penggunaan xylitol sebagai pemanis dalam produk pangan. Tiga tahun kemudian, FDA (Food Drug Administration) pun merestui penggunaannya.

Xylitol merupakan senyawa antara dalam metabolisme karbohidrat dalam tubuh manusia dengan kecepatan produksi antara 5 sampai dengan 15 gram per hari. Rumus kimia xylitol dinyatakan sebagai CH2OH(CHOH)3CH2OH dengan berat molekul sebesar 152,1. Dibandingkan dengan glukosa, xylitol mengalami absorpsi ke dalam tubuh yang lebih lambat. Dengan demikian, kenaikan glukosa darah yang tiba-tiba dapat dihambat. Karena alasan inilah, xylitol pun kerap kali digunakan sebagai pengganti sukrosa bagi penderita diabetes.

Xylitol & kesehatan gigi

Kerusakan gigi sebagian besar diakibatkan oleh dua faktor yaitu makanan, terutama gula dan bakteri. Beberapa jenis bakteri selalu berada di dalam mulut. Mereka terpelihara oleh sisa-sisa makanan yang menempel pada gigi. Kebusukan gigi dapat dimulai dengan demineralisasi pada permukaan gigi bagian luar hasil produksi asam oleh bakteri yang mencerna karbohidrat. Kebusukan gigi ini dipercepat ketika gigi semakin kekurangan mineral dan metabolisme bakteri berlanjut untuk beraksi pada gigi. Lubang yang terbentuk jika tidak dirawat akan berkembang dan merusak jaringan lainnya.

Meski telah diketahui lebih dari delapan jenis bakteri hidup di sekitar mulut, Streptococcus mutans disebut-sebut sebagai bakteri yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan gigi. Streptococcus mutans mempunyai kemampuan mengubah gula dan karbohidrat lain menjadi asam. Asam ini menjadi bagian yang menempel untuk selanjutnya membentuk plak gigi. Plak sendiri terdiri dari banyak bakteria yang hidup bersama dalam gula, protein, saliva, dan partikel makanan yang membusuk dan menempel.

Asam pada plak menyerang mineral pada lapisan gigi bagian luar. Hal ini menyebabkan erosi pada gigi yang dapat menyebabkan terbentuknya lubang kecil pada email gigi. Pada tahap awal, lubang ini tidak dapat terlihat secara nyata, tetapi menghasilkan lingkungan mikro yang ramah terhadap pertumbuhan bakteri. Semakin lama plak atak terus merusak gigi. Apabila hal ini terus dibiarkan lubang pada gigi akan terus semakin berkembang.

Semula, xylitol hanya digunakan sebagai pemanis alternatif untuk penderita diabetes. Kini, pemanis itu juga banyak digunakan untuk menjaga kesehatan gigi. Riset terkini menegaskan, kebiasaan mengunyah permen karet dengan pemanis xylitol sangat efektif mencegah kerusakan gigi. Xylitol mampu menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans saat mengubah gula dan karbohidrat lain menjadi asam. Hal ini dapat dilakukannya mengingat xylitol tidak dapat difermentasikan oleh bakteri tersebut. Oleh karena itu, pertumbuhan Streptococcus mutans menjadi demikian terhambat. Daya penghambatan xylitol dapat menyentuh angka 90 persen. Efektivitas xylitol akan baik jika kandungannya dalam produk melebihi angka 50 persen. Namun demikian, efektivitasnya akan terganggu bila ada pemanis lain yang terdapat dalam produk tersebut.

Penggunaan xylitol akan memicu produksi air liur yang mengandung banyak mineral penting bagi email gigi. Kondisi ini dinilai sangat menguntungkan kesehatan gigi karena akan memperbaiki lapisan gigi bagian luar. Sebuah riset di Amerika menyatakan bahwa xylitol mampu menekan jumlah bakteri penyebab kerusakan gigi, menghambat pertumbuhan plak, menekan keasaman plak dan mempercepat proses pembentukan kembali mineral gigi. Sifatnya yang sulit difermentasi menyebabkan xylitol menjadi substrat yang tidak baik bagi pertumbuhan bakteri. Mekanisme inilah yang sebenarnya menjadi alasan mengapa xylitol dapat menghambat pertumbuhan bakteri yang merugikan pada gigi. Demikian dijelaskan dalam sebuah majalah terkenal Dimensions of Dental Hygiene edisi Maret 2006.

Sebuah publikasi terkini menyatakan, setidaknya ada tujuh kelebihan xylitol dibandingkan dengan pemanis lainnya. Kelebihan-kelebihan tersebut yaitu xylitol dapat membantu menghambat pertumbuhan karies gigi, tidak dapat difermentasi oleh bakteri dalam mulut, membantu mereduksi pembentukan plak, meningkatkan produksi air liur, dapat menggantikan posisi fluoride dalam produk pasta gigi, mempunyai rasa yang cukup nikmat tanpa menyisakan aftertaste yang tidak diinginkan dan yang lebih penting menghasilkan kalori yang lebih rendah dibandingkan dengan sukrosa atau gula pasir. Satu gram xylitol menghasilkan 2,4 kalori. Angka ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan sukrosa yang menghasilkan energi 4 kalori/gram. Konsumsi 5-10 gram xylitol per hari masih dinilai aman.

Produksi dan aplikasi

Di Finlandia, xylitol diproduksi secara komersial dari kayu birk. Xylan yang terdapat dalam kayu tersebut dihidrolisis dengan asam menjadi Xylosa yang kemudian dipisahkan dengan cara ion exchange dan kromatografi. Xylosa yang diperoleh selanjutnya dihidrogenasikan menjadi xylitol dan akhirnya dimurnikan dan dikristalkan. Secara alami, xylitol banyak ditemukan dalam buah-buahan (0,3 sampai dengan 0,9 gram per 100 gram) seperti pada wortel, bayam, selada, stroberi, dan kembang kol. Bahan limbah pertanian yang banyak terdapat di Indonesia semisal sekam padi, tongkol jagung, bagase atau ampas tebu dapat juga dipakai sebagai bahan dasar pembuatan xylitol.

Akan tetapi, karena proses pengolahannya mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi dengan rendemen yang rendah, biaya produksi xylitol menjadi demikian tinggi. Alasan inilah yang menyebabkan harga xylitol di pasaran masih terbilang mahal. Pada tahun 2001 saja jumlah kebutuhan xylitol dunia mencapai angka 40.000 ton senilai 28 juta dolar AS atau sekitar Rp 252,6 miliar. Dibandingkan dengan negara lain seperti Cina, India, dan Jepang, Indonesia masih jauh tertinggal dalam mengusahakan pemanis yang satu ini.

Hingga saat ini xylitol digunakan di lebih 35 negara di dunia. Sebagian besar di antaranya digunakan sebagai pemanis dalam industri permen, produk pharmaceutical, dan produk kesehatan mulut seperti pelega tenggorokan, obat batuk, obat kumur, dan pasta gigi. Apabila dilarutkan, panas pelarutan xylitol adalah negatif sepuluh kali lebih besar daripada sukrosa. Dengan demikian, xylitol akan terasa dingin apabila mencair dalam mulut seperti permen. Xylitol stabil terhadap udara dan panas. Hanya, sifatnya higroskopis terutama bila kelembapan nisbinya di atas 75 persen.

Kristal atau larutan xylitol stabil tehadap pemanasan selama pengolahan bahan pangan. Xylitol mudah larut dalam air, sedikit larut dalam alkohol. Titik cairnya yang cukup rendah yaitu 94 derajat Celcius menjadikan keuntungan tersendiri bagi xylitol. Kelebihan inilah yang menjadi alasan mengapa xylitol banyak diaplikasikan dalam produksi pembuatan kembang gula termasuk permen karet di dalamnya. Oleh karena itu, jangan takut mengonsumsi permen karet terlebih permen karet yang menggunakan xylitol sebagai pemanis utamanya.

Contoh produk yang mengandung xylitol

Xylitol adalah pemanis alami dari serat pohon white birch di Finlandia. Bahan ini juga terkandung dalam buah serta sayuran seperti strawberry, plum, kembang kol, dan bayam. Sejak permen karet Lotte Xylitol+2 dilepas ke pasaran awal Maret silam, pihak manajemen mengakui pemahaman masyarakat akan manfaat Xylitol makin meningkat.

“Di antara berbagai pemanis, Lotte Xylitol memiliki lebih dari 50 persen kandungan Xylitol,” ujar Vice President Sales and Marketing PT Lotte Indonesia Chikara Sakai di Jakarta, baru-baru ini. Tak hanya itu, menurut Chikara, dalam penjualan permen karet produk Lotte Xylitol juga memberikan kontribusi hampir 80 persen penjualan di pasar modern.

Manajemen Lotte pun rutin bekerja sama dengan berbagai instansi terkait agar manfaat Xylitol kian diresapi masyarakat. Seperti pada 5 Desember silam, Lotte bersama Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia menggelar penandatanganan kerja sama dan seminar bertema Meningkatkan kesadaran masyarakat Terhadap Pentingnya Kesehatan Gigi.

Sri Angky Soekanto, Dekan FKG UI mengakui pihaknya menyambut baik kerja sama itu. Pasalnya mereka bisa mensosialisasi baik ke dokter gigi dan mahasiswa. “Kita berharap dokter gigi fokus pada tindakan preventif karena banyak pilihan yang lebih mudah dilakukan pasien dalam menjaga kesehatan mulut. Salah satunya permen karet dengan Xylitol,” ucap Sri.

Kini, tidak dapat dipungkiri kalau Xylitol yang dimiliki produk LOTTE Xylitol+2 bermanfaat dengan kandungan lebih dari 50 persen serta diperkaya dua bahan aktif yaitu funoran dan kalsium fosfat. Alhasil, kandungan tersebut dipastikan bisa menjadi salah satu faktor dalam mendukung upaya pencegahan dini bagi kerusakan gigi.

“Dengan fluoride, Xylitol berefek baik untuk kesehatan gigi,” ucap Elza Ibrahim Am Biomed, peneliti Xylitol. Dari beragam penelitian, imbuh Elza, Xylitol ternyata bisa mereduksi karies. Menurut Elza, Xylitol Saliva bisa memperkuat gigi sehingga kuman tidak bisa memetabolisir karbohidrat. Wajar, Xylitol kini terkenal di negara-negara Eropa.

Tak hanya itu, adanya pengetahuan tentang manfaat Xylitol diharapkan dapat memberi acuan lebih dalam bagi masyarakat soal kesehatan gigi. Tentunya selain membersihkan dan merawat gigi sesuai anjuran dokter. Memang, sudah tiba saatnya masyarakat bersikap serius terhadap kesehatan gigi dan mulut. Ya, salah satunya dengan mengonsumsi Xylitol.

Manfaat dari Xylitol diakui salah konsumen bernama Sylvia Dinie. “Sekarang saya lebih tahu kandungan 50 persen Xylitol pada permen Lotte bisa sebagai pencegahan dini terhadap gigi berlubang. Selain itu, Xylitol bisa menstimulasi air ludah dan dapat mengurangi timbulnya karang gigi di samping rajin sikat gigi dan periksa ke dokter gigi secara rutin,” Sylvia.

Sebagaimana yang dianjurkan para dokter gigi, Xylitol bisa dikonsumsi secara rutin. Biasanya, setiap habis makan dan setelah menggosok gigi sebelum tidur. Alhasil upaya ini mampu mengurangi resiko terjadinya gigi berlubang.

5 Tanggapan to "XYLITOL, ZAT ANTI KARIES GIGI"

Met kenal🙂
thanks y bwt artikelx…

mas lawang, aku mau cari tau tentang s.mutans donk… aku masih bingung soal :
1). apa bedanya glucosyltransferase dg fructosyltransferase???
2). terus nyambungnya sama alpha (1,3) dan alpha (1,6) tu apa???

tolong banget ya mas coz buat KTI aku…plisplisplis aku perlu ini sampai bulan maret-april…

buat smuanya makasih banget…😉
btw, salam kenal…hehehe

O iya… ada yang lupa… bakteri ini bisa hidup di Nutrition Agar ga???
Muller Hinton Agar????
makasih…🙂

thanks atas artikelx.mau nanya ada tidak konsep baru tentang xylitol

bagaimana caranya membuat xilitol?
alat dan bahan apa saja yang dibutuhkan?
trimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Feb »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 517,026 hits
%d blogger menyukai ini: