Jejak Lawalangy, Koemo Wuto Sumanomo Liwu

BARONGAN-REOG: SAMAKAH?

Posted on: November 26, 2007

meskipun temanya mirip, tari barongan yang dari malaysia tak sama dengan reog. filosofi dan kedua tarian ini sangat berbeda. sengketa ini adalah gambar ketidakbecusan pemerintah dalam memelihara kesenian tradisional indonesia dan senimanya. TAK cukup hanya mengklaim lagu Rasa Sayange Malaysia kembali diberitakan mengklaim kesenian Reog sebagai kesenian asli mereka. Meski persoalan sebernarnya belum dibuktikan secara empiris apakah kesenian itu benar-benar Reog dari Ponorogo atau bukan, publik Indonesia terlanjur patah arang dengan Malaysia. Negara tetangga itu dinilai “tak tahu malu”, “selalu mencari gara-gara” dan sebagainya.

Protes dan nada kemarahan dari publik Indonesia bertebaran di banyak media tanah air, terutama dari seniman Reog Ponorogo dan penduduk Jawa Timur. Bupati Ponorogo bahkan menyempatkan untuk mengadakan konferensi pers dan memprotes klaim tersebut. Anak-anak muda di Bandung memproduksi kaos oblong bertuliskan “Visit Malingasia” plesetan dari ikon tahun kunjungan wisata Malaysia “Visit Malaysia.” Tapi apa benar Malaysia telah mengklaim Reog?

Dalam situs resmi Kementerian Pariwisata Malaysia tercantum Barongan, sebagai salah satu kesenian tradisional Malaysia. Tarian itu menggambarkan kisah di zaman Nabi Sulaiman ketika binatang-binatang bisa bercakap. Konon, seekor harimau telah melihat seekor burung merak yang sedang mengembangkan ekornya. Karena terlihat oleh harimau merak pun melompat di atas kepala harimau dan keduanya terus menari. Seorang pamong bernama Garong yang mengiringi puteri raja yang sedang menunggang kuda kebetulan melewati kawasan itu. Pamong lalu turun dari kudanya dan menari bersama dengan dua binatang tadi. Menurut situs tadi, tarian itu berkembang di daerah Batu Pahat, Johor dan di negeri Selangor.Jika benar apa yang ditulis oleh situs tersebut Barongan Malaysia tentu saja berbeda dengan Reog, baik dari latar belakang sejarah, tarian maupun filosofinya. Kesenian Reog adalah kisah kedigdayaan yang penuh aroma magis dan latar belakangnya sama sekali terbebas dari kisah-kisah keagamaan (Islam). Dari sejarahya, tarian ini sudah ada sejak abad ke 12 masehi di zaman Kerajaan Kadiri.

Dikisahkan di dalam Asal Usul Reog Ponorogo di situs Wikipedia.org telah terjadi pertempuran antara Raja Ponorogo dengan Singa Barong penjaga hutan Lodoyo. Pujangga Anom nama raja itu telah membangunkan dan membuat marah singa tersebut, karena mencuri 150 anak macan dari hutan Lodoyo. Anak-anak macan itu rencananya akan dia gunakan sebagai mas kawin pernikahannya dengan seorang puteri dari Raja Kadiri. Pertempuran antara Pujangga Anom dan singa penjaga hutan Lodoyo kemudian tak terelakkan. Kisah itu lalu menjadi legenda pada rakyat Ponorogo dan sekitarnya tentang keberanian dan ketabahan orang-orang Ponorogo dan diwujudkan dalam bentuk tarian Reog.

Dalam tarian Reog para penari bukan saja menampilkan gerakan-gerakan badan yang mempesona namun juga menyertakan suasana magis. Para penari dipercaya berada dalam keadaaan kesurupan meskipun yang sesungguhnya terjadi mereka mendahului tarian Reog dengan ritual puasa dan semedi. Adegan ketika seorang penari memanggul topeng besar berupa kepala singa yang di atasnya dihiasai dengan bulu merak adalah salah satu contoh kuatnya aroma magis tersebut.Satu topeng singa bisa mencapai setengah kwintal (50 kilogram) bahkan lebih dan topeng itu hanya disanggah oleh penarinya dengan gigi-gigi: seutas bambu yang melintang di bagian dalam topeng digigit kuat-kuat. Sering pula dijumpai di atas topeng itu duduk seorang penari lain yang bergoyang-goyang. Teman saya, Canang Indriatmo dari Malang pernah ikut dalam rombongan tari Reog dan dia duduk di atas topeng singa yang disanggah oleh gigi-gigi seorang penari itu. Jika berat penari yang duduk di atas topeng singa itu berbobot 50 kilogram, maka penari yang menyangga topeng dengan gigi-giginya itu harus menahan berat sekitar 100 kilogram.

Dalam praktiknya, tarian Reog bisa dipentaskan untuk beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar nasional. Tarian ini biasanya terdiri dari dua atau tiga rangkaian tarian pembukaan. Tarian pertama dibawakan oleh 6-8 pria yang berpakaian serba hitam dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.

Tarian berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada Reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Meskipun dinamakan tari jaran kepang tarian ini berbeda dengan seni tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Di sebutkan oleh situs Wikipidea.org setelah tarian pembukaan selesai baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni Reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita tentang pendekar. Dengan kata lain, adegan dalam seni tari Reog tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan.Barongan Malaysia tidak seperti itu dan itulah yang membedakan tarian itu dengan Reog dari Ponorogo. Mungkin tema tariannya agak mirip meskipun harus dikatakan antara keduanya terdapat perberbedaan yang jauh. Namun andai pun dianggap mirip, hal itu hanya terletak pada temanya yang mengusung tema singa atau macan. Tema semacam itu juga bisa dijumpai dalam tarian Sisingaan dari Kuningan Jawa Barat dan Barongsai tarian khas Cina. Dan jika dilihat dari filosofinya, Barongan Malaysia cenderung bernuansa keagaamaan (penyebaran Islam) sementara filosofi Reog adalah keberanian dan ketabahan.

Adapun soal lagu Rasa Sayange, klaim Indonesia sebagai pencipta lagu tersebut juga tidak kuat. Dalam pernyatannya Jero Wacik selaku Menteri Budaya dan Pariwisata menegaskan, Indonesia tidak memiliki bukti kuat yang menunjukkan lagu itu adalah karya warganya. Persoalan utamanya adalah pencipta lagu Rasa Sayange tertulis NN (no name) alias tidak diketahui penciptanya.

Kenyataan atas lagu Rasa Sayange yang tidak ditemukan penciptanya dan kemudian diklaim sebagai lagu milik Malaysia itu memang pahit bagi publik Indonesia. Lagu ini adalah lagu yang sering didendangkan oleh anak-anak muda di tanah air ketika mereka bersuka cita di bawah terang bulan pada musim panen, melakukan perjalanan pariwisata atau berkemah. Namun nasi telah menjadi bubur. Malaysia telah lebih dulu mendaftarkan lagu itu sebagai lagu negara mereka.

Dalam pernyataan yang dikutip harian The Star, Menteri Ke­budayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia, Rais Yatim mengatakan, Indonesia tidak bisa mengklaim sebagai pemilik lagu itu, karena la­gu itu merupakan lagu rakyat Malaysia. Rais juga meminta Indonesia untuk membuktikan lagu itu sebagai mi­lik­ny­a. “’Saya tidak mengerti. Saya sudah je­laskan kepada Jakarta Post, bahwa Rasa Sayange merupakan lagu rakyat untuk kepulauan nusantara (Malay archipelago). Jadi Indonesia tidak da­pat mengklaim bahwa itu lagu mereka,’’ ujarnya.

Malaysia mungkin saja memang telah “mencuri” beberapa kesenian tradisional Indonesia. Namun yang semestinya harus disikapi adalah tindakan pemerintah Republik Indonesia. Sejak zaman Sukarno hingga SBY, pemerintah dan parlemen cenderung tidak pernah becus memberi perhatian dan mengurus kesenian-kesenian tradisional Indonesia misalnya dengan mendaftarkannya sebagai hak kekayaan intelektual. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mempertahankan kekuasaan politik, menumpuk kekayaan, melakukan korupsi, dan sebagainya. Sementara urusan kesenian dan juga nasib para seniman tradisional dibiarkan terlunta-lunta.

Suatu saat nanti, jangan terkejut jika Malaysia kemudian juga mendaftarkan permainan tradisional seperti Congkak, Ketinting dan sebagainya sebagai permainan tradisional mereka. Di situs Kementerian Pariwisata Malaysia nama-nama permainan tradisional itu sudah terpampang sebagai kesenian tradisional mereka. Jadi masihkah kita akan terus menyalahkan Malaysia, setelah dulu Indonesia juga tidak punya bukti atas

1 Response to "BARONGAN-REOG: SAMAKAH?"

menuRut kami,,
maLin9sia bener2 negara yan9 9a punya sopan santun,,
seenaknya aja dy mengklaim kLo kesenian & La9u Ind0nesia punyA dy,,,
dy itu syirik sama Indonesia,coz qTa punya aneka ragam budaya dari nenek moyang…
toLong dEch buat Malaysia jangan cari gara2 sama Indonesia….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

November 2007
S S R K J S M
« Sep   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 517,026 hits
%d blogger menyukai ini: