Jejak Lawalangy, Koemo Wuto Sumanomo Liwu

Sekilas Mengenai Wu

Posted on: Juli 9, 2007

“Belajar tanpa berpikir akan menghasilkan kekonyolan belaka, berpikir tanpa belajar adalah berbahaya”.

Di jaman kuno, seorang murid yang berucap sembarangan tanpa mengetahui kebenaran atau fakta dapat dihukum mati oleh gurunya. Demikian pula kapan pun dan di mana pun tempat di dunia ini: pertumpahan darah terjadi karena masing-masing mempertahankan “kebenaran” menurut versinya sendiri.

Lalu apakah sebenarnya “Kebenaran” yang dipertahankan itu?
Tiadakah suatu titik temu?
Apakah “Kebenaran” itu milik segolongan orang tertentu?
Ataukah merupakan suatu hal yang majemuk?
Dimanakah letak “keberadaban” manusia yang kacau karena kesadaran-nya yang rabun?

Nah, kata kuncinya adalah kesadaran. Paling tidak (minimal) dapat berarti: kemampuan mengetahui kesalahan diri dan mencari cara memperbaikinya. Memang hanya segelintir orang yang memiliki bibit baik yang bisa terus melatih hingga taraf tinggi.

Pengalaman menunjukkan bahwa “alam pikiran” merupakan hal yang unik. Bagaikan cermin. Cermin yang retak memantulkan bayangan yang retak, meskipun obyeknya utuh. Namun maukah dan mampukah cermin tersebut menyadari dirinya?

Untungnya kita adalah mahluk hidup yang berbudi, sehingga senantiasa dapat merevisi diri. Memang sulit untuk keluar dari lautan kebodohan sementara diri kita sedang tenggelam. Tetapi dalam artikel ini, saya ingin mengajak saudara-saudari semua memulai langkahnya yang pertama (dasar-dasar) untuk melatih kesadaran masing-masing.

Wu (baca: U), dapat diterjemahkan secara singkat sebagai “mengerti”, “sadar”, “memahami”. Seringkali kesadaran ini menjadikan kita begitu terpesona sehingga akhirnya menjadi mati di satu titik. Tetapi ingat bahwa “pemahaman” itu sendiri bukanlah titik akhir, melainkan sesuatu kondisi kesadaran yang tetap harus diikuti oleh sikap batin yang selalu berusaha untuk menyempurnakan pengertian-pengertiannya. Inilah yang membedakan antara “Wu” yang sejati dengan sikap keras kepala. Maka dikatakan: “Wu, Wu, dan Wu lagi”.

Sebenarnya “Wu” adalah sebuah kondisi dimana pikiran kita bisa “menembus” kedalam pengertian-pengertian yang hakiki secara komplit (komprehensif) dan memiliki kelincahan dalam menangkap dan menganalisa suatu obyek.

Sesuatu yang kelihatannya sulit dan kompleks, dapat ditembus dengan satu benang merah yang sederhana.

Otomatis dalam tarafnya yang tertinggi, perbedaan-perbedaan akan melebur, hanya tersisa satu Kebenaran saja. Itulah yang Hakiki (Tao). Tombak (mao) dan tameng (dun) dapat disatukan (kamus: maodun = konflik). Dari taiji kembali pada wuji.

Pedoman untuk Wu

Dalam menghadapi masalah sehari-hari, kita seringkali sudah merasa berpikir keras dan merasa telah mengambil keputusan yang terbaik. Tetapi apakah sesungguhnya kriteria dari “yang terbaik” itu?

Untuk melatih diri mengarah kepada tingkat Wu yang semakin tinggi, ada 3 hal yang harus terpenuhi:

  1. He Qing, sejalan dengan perasaan atau batin.
  2. He Li, sejalan dengan logika, nalar, rasio.
  3. He Fa, sejalan dengan etik, norma, hukum, peraturan.

Poin pertama dan kedua memiliki ruang-lingkup ke dalam diri kita (dimensi subyektif). He Fa, memiliki ruang lingkup keluar terhadap lingkungan di sekitar kita (dimensi obyektif). Setiap manusia memiliki keunikannya masing-masing. Problem akan timbul bahwa tingkat pengertian dari tiap individu berbeda-beda, sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan yang berbeda-beda terhadap sebuah masalah yang sama. Bagaimanakah cara menyikapinya?

Setiap manusia memiliki hak azasinya masing-masing untuk mempertahankan keunikan dirinya. Meskipun demikian, ingat bahwa tiada seorang pun yang dapat menjalankan kemanusiannya secara normal dengan hidup tanpa orang lain. Oleh karena itu, untuk menghadapi perbedaan-perbedaan yang timbul dalam pengertian masing-masing, kita memerlukan Wu pada suatu level yang lebih tinggi lagi.

Ada beberapa tips:

  1. Sadar bahwa tidak selalu diri kita pasti benar. Oleh karena itu, perlu sikap jujur terhadap diri sendiri, lapang dada, dan rendah hati (misal: berani mengakui dan menerima kesalahan).
  2. Sadar bahwa selalu ada orang lain yang lebih pintar dalam satu atau beberapa hal atau bidang tertentu. Oleh karena itu, perlu sikap mengalah, terus mau belajar dan menyempurnakan diri. Sementara anda belajar mengasah “Wu” anda, ikutilah petunjuk dari yang lebih tahu (senior, atasan, pemimpin, dsb).
  3. Sadar bahwa kepintaran bukan segala-galanya. Pada waktu dan kondisi tertentu, kita perlu menyadari posisi kita dalam kaitannya dengan budaya dan tradisi. Ini adalah dasar menuju Wu juga: belajar untuk konform pada “yang telah ada”, walaupun terus aktif menganalisa dan bersikap kritis.

    Memang sulit, karena disamping perlu kerendahan hati dan sikap fleksibel juga perlu wawasan yang luas dan dalam. Misal: meskipun merasa diri kita sudah benar, namun mampu memberikan respon berupa sikap yang sesuai dengan budaya dimana kita berada. Misal: sikap terhadap “Shi” (shifu, shixiung, shijie, shidi, shimei, dll)

  4. Sadar bahwa setiap masalah tidak sama urutan kepentingan atau prioritasnya. Ada yang prinsipil, ada pula yang sepele sehingga lebih baik mengalah saja, atau dikorbankan.
  5. Sadar akan tujuan, motivasi dan konstrain (kendala, batasan). Belum tentu yang diajarkan atau diberikan oleh seseorang itu menyatakan sebuah pernyataan yang lengkap, mengingat adanya tujuan yang lain, misalnya: untuk mendidik dan merangsang untuk berpikir sendiri.

Hal-hal yang mendukung dalam peningkatan Wu:

  1. Melatih “He Qing”.
    Pemurnian hati nurani, sering melakukan introspeksi diri, menilai kemampuan dan keku-rangan diri, jujur terhadap diri sendiri, mencari jalan untuk mengerti “aku sejati”, melatih kepekaan terhadap perasaan orang lain (empati).
  2. Melatih “He Li”.
    Memahami pengertian-pengertian dasar, berlatih mengenai “cara berpikir” yang baik, bersikap kritis, memiliki dasar (kenyataan, fakta, logika), tidak berprasangka dulu (apriori), tidak pretensius, wawasan harus luas dan mendalam (sekolah, kursus, bergaul, dsb), mempunyai pengetahuan terhadap cara pandang orang pada umumnya, tidak melakukan hal-hal aneh / sekedar berbeda.
  3. Melatih “He Fa”.
    Bersikap sosial, membuka diri terhadap lingkungan sekitar, mempelajari budaya, etika, norma, tata aturan dan hukum yang berlaku. Melatih pengendalian diri yang baik.

Secara global,disamping rajin menggunakan akal dan budi, kecerdasan dapat ditingkatkan melalui latihan Jing Zuo [Cing Co], yang juga termasuk salah satu cara memupuk kepekaan dan kecerdasan.

Ciri-ciri mencapai Wu

Menurut pendapat saya, sulit untuk mengukur sampai dimanakah taraf Wu kita. Jadi lebih baik kita berhenti untuk ukur-mengukur taraf Wu diri sendiri maupun orang lain. Namun meskipun demikian, biasanya terdapat beberapa gejala yang berkorelasi dengan tingkat pencapaian seseorang. Menurut saya, suatu sikap atau tindakan dapat dikatakan “Wu” biasanya memiliki karakteristik a.l.:

  1. Fair terhadap pihak-pihak yang terlibat.
  2. Memancarkan kuasa (authoritative power) dan kesan yang baik (goodwill).
  3. Membina ke arah hubungan antar manusia dan pergaulan yang baik.
  4. Pada akhirnya akan mempunyai nilai positif untuk semua pihak.
  5. Memiliki nilai kebenaran universal.

Saran:

  • Wu sangat mendasar dan penting bagi Siu Tao kita. Bagi yang baru belajar Tao lebih baik mematangkan soal “Wu” ini sebelum mencoba mengerti konsep-konsep lain yang lebih sulit dan mendalam.
  • Jangan cepat putus-asa, atau sebaliknya juga jangan terlalu berambisi (semuanya akan sampai sendiri pada waktunya), juga jangan cepat tersinggung apabila menerima kritik ataupun pendapat lain yang berbeda.
  • Jangan menjadikan “Wu” sebagai tameng, sebagai alat mengadili orang lain. Tidak tahu katakanlah tidak tahu. Tidak boleh memberitahu, katakanlah belum saatnya. Bila salah, akui salah. Bila kalah, akui kalah. Jangan membalik bahwa orang lain yang belum “Wu”, karena anda sendiri yang akan rugi.
  • Rajin-rajin mendengar Ciang Tao. Aktif berdiskusi kelompok. Rajin membaca buku yang baik, walau harus kritis menyaring dan berpikir sambil membaca. Rendah hati saling belajar satu dengan yang lainnya. Ingat bahwa dari pernyataan yang “pro” dan “kontra”, kita akan lebih banyak mendapatkan pelajaran dari suatu pendapat yang “kontra”. Alangkah tentramnya dunia ini apabila semua orang bisa mencapai taraf tertinggi dalam Wu-nya, walaupun saya percaya bahwa hal ini adalah suatu impian yang mustahil belaka. Perbedaan akan selalu timbul, karena itu adalah sesuatu kodrat juga. Oleh karena itu, sangat penting memupuk sifat Lapang Dada. Ini juga merupakan suatu Wu juga.
  • Untuk melatih “Wu” diperlukan sikap-sikap lain yang merupakan dasar dari Siu Tao kita, misal: Zheng Yi (sikap yang satu), kemantapan atau percaya diri, dll.

Demikianlah sekilas mengenai Wu.

Oleh: Daniel Li

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Juli 2007
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 517,026 hits
%d blogger menyukai ini: