Jejak Lawalangy, Koemo Wuto Sumanomo Liwu

Menjaga Stabilitas Hidup

Posted on: Juli 9, 2007

Baik secara pribadi atau organisasi, stabilitas hidup diciptakan dengan terus-menerus menciptakan perubahan internal sebagai jawaban dari siklus perubahan eksternal. Jawaban tersebut harus berupa reaksi yang cocok sebab kalau tidak, perubahan yang anda lakukan untuk menjawab bisa jadi justru berupa problem alias terjadi gap dan instabilitas. Kesimpulannya, kunci reaksi yang cocok tersebut terdapat pada keberanian meninggalkan sebagian norma lama yang tidak memadai dan sebagai gantinya, menciptakan norma baru yang lebih memadai. Lalu apa saja yang harus anda pahami agar terjaga stabilitas hidup anda?

The Science of Cybernetics


Selama Perang berkecamuk antara tahun 1939 – 1945, sebuah investigasi oleh pakar militer Amerika menemukan sistem kontrol yang digunakan untuk mendeteksi serangan musuh yang disebut anti-aircraft. Tidak saja terhadap pesawat melainkan juga peralatan perang lainnya. Semula system ini hanya digunakan sebatas mengatur hubungan antara manusia dan peralatan perang serta bagaimana mereka mengoperasikan. Tetapi kemudian berkembang ke wilayah industri baik pada pribadi dan perusahaan yang kemudian dikenal lebih popular dengan sebutan The Science of Cybernetics.

Dari investigasi ditemukan bahwa ciri khas paling menonjol dari sebuah system makhluk hidup, adalah adanya fenomena feedback yang identik dengan proses komunikasi di dalam bisnis atau kehidupan secara menyeluruh. Lebih spesifik, feedback mengacu pada pengertian seperti yang dijelaskan dalam Principles of Management [A.H. Taylor AACCA, GT Britain, 1977] sebagai: automatic response to external change. Contoh: begitu salah satu anggota badan bersentuhan dengan ancaman faktor eksternal misalnya saja api atau lainnya maka secara automatic anda langsung menarik untuk menemukan norma baru yang stabil.

Yang perlu disayangkan, Ilmu Sibernetika telah diformulasikan menjadi sebuah paket materi tertentu untuk profesi tertentu dengan berbagai aksesoris teknologi yang tidak dimiliki kecuali kalangan tertentu. Artinya, lebih ditekankan pada aspek penguasaan pada bagaimana benda-mati bekerja. Padahal esensi yang melatar-belakangi Ilmu tersebut sangat berguna bagi umat manusia, terutama dalam hal mengupayakan keseimbangan hidup antara perubahan internal dan eksternal. Artinya bagaimana pribadi atau organisasi bisa menciptakan reaksi yang cocok dengan perubahan eksternal melalui proses komunikasi mental dan pemahaman. Tujuannya tidak lain agar keadaan hidup masing-masing pribadi atau organisasi selalu dalan situasi on-line alias terkontrol secara tepat.

Masih melihat dari kacamata sejarah, bahwa hasil investigasi menemukan adanya support system yang telah dipasang di dalam masing-masing makhluk hidup, yang memungkinkan terjadinya proses komunikasi antara manusia, keadaan, benda-benda, hewan, dll. Dalam strategi perang dikatakan bahwa kemenangan akan menjadi hak milik bagi yang menguasai keadaan. Tentu ini isyarat bahwa sebenarnya telah dipasang networking cable antara manusia dan makhluk hidup lain supaya mereka bisa berkomunikasi. Lalu dari komunikasi inilah jurus yang tepat untuk merumuskan reaksi yang cocok. Hanya seorang pawang bisnis yang bisa menjinakkan bisnis sama ibaratnya dengan pawang harimau atau binatang buas lainnya. Artinya, menguasai keadaan setelah terjadi komunikasi, interaksi, identifikasi dan reaksi.

Karena manusia tidak saja sekedar organisme hidup (living organism), tetapi juga the human, maka istilah lain yang lebih popular digunakan adalah reflective, bukan automatic. Artinya anda harus memiliki sensitivity feeling yang tajam pada setiap perubahan eksternal agar bisa menemukan reaksi yang cocok dengan cara mengubah tatanan internal agar terjaga keseimbangan hidup. Reflective artinya sudah terbiasa, conditioned by the habit, dengan membiasakan diri untuk selalu online, connected, atau on. Alasannya adalah karanea perubahan eksternal bisa terjadi di luar kontrol anda. Bisa kapan saja atau dalam bentuk apa saja. Satu-satunya yang bisa anda kontrol adalah diri anda. Kontrol diri artinya anda dengan sadar menentukan pilihan reaksi yang positif. Dengan kontrol diri, minimal anda tidak menambah problem dengan problem yang akan menghasilkan problem baru melainkan memposisikan problem diadu dengan solusi.

Lantas bagaimana The Natural Science of Cybernetics bisa diaplikasikan ke dalam kehidupan pribadi atau organisasi? Jika esensinya berupa reflective control to external change, maka anda bisa mengaplikasikannya dengan mengikuti formula “C.Y.T.” yang ditawarkan oleh Tom Payne dalam The 7 Dynamic Keys that will Transform Your Life. Formula C.Y.T. adalah singkatan yang berarti:

1. Catch yourself Thinking

2. Control Your Thoughts

3. Create Your Thoughts

Jika anda merasakan perubahan yang menuntut jawaban dalam bentuk reaksi yang cocok, maka pertama kali yang perlu anda lakukan adalah menangkap diri anda secara utuh. Menangkap adalah memiliki sense of ownership and responsibility. Anda adalah pemilik dari kehidupan yang anda rasakan saat ini, bukan menjadi bagiannya, dan karena sebagai pemilik maka andalah yang bertanggung terhadap segala hal yang menimpa. Terhadap keadaan hidup yang anda rasakan, pilihannya cuma dua yaitu menerima untuk mengubah atau menerima untuk membiarkan. Kendali kontrol pilihan tersebut sepenuhnya harus anda miliki. Kenyataannya, pilihan tersebut akan memberikan dampak berupa berupa benih-benih konsekuensi hidup sebesar sukses – gagal; benih-benih antara menjadi pencipta perubahan dan menjadi korban perubahan; benih-benih bahagia dan nestapa. Maka, anda harus dalam kondisi sadar dengan pilihan-pilihan itu. Dalam pengertian memiliki keputusan untuk melakukan sesuatu yang punya akses langsung terhadap situasi.

Atas dasar pilihan tersebut, maka sejumlah ahli nampaknya sepakat untuk mendeklarasikan bahwa di dunia ini tidak ditemukan realitas dalam arti baik atau buruk, negatif atau positif, menyenangkan atau menyedihkan. Realitas bersifat netral yang bisa anda rasakan menurut makna yang anda bubuhkan. Anthony Robbins mengatakan: “You can’t always control the wind, but you can control your sails”. Melengkapi perkataan Robbin tersebut, Jan Tincher mengatakan: “Reality is for people with no imagination – and nothing is good or bad, but thinking makes it so”. Jadi realitas tidak menciptakan pemaknaan apapun atas dirinya kecuali yang telah anda ciptakan.

Wilayah Hidup

Agar stabilitas hidup bisa anda rasakan, maka anda perlu memahami apa saja wilayah hidup yang membutuhkan situasi stabil. Dan bagaimana anda meletakkan stabilitas hidup dalam perspective yang proporsional.

1. Wilayah Internal

Kalau dipukul rata, semua manusia akan menjadikan sejumlah wilayah hidup seperti fisik, mental, emosional, intelektual, spiritual, sosial dan finansial sebagai zone sentral. Jika keseimbangan tidak terjadi dapat dipastikan bahwa hidup akan mengalami kegoncangan. Sedangkan untuk menemukan kesimbangan harus diwujudkan ke dalam upaya untuk mengembangkannya sesuai porsi yang dibutuhkan baik secara pribadi atau organisasi.

2. Wilayah Eksternal

Seperkasa apapun pribadi atau organisasi tidak akan sanggup menghentikan perputaran siklus eksternal. Strategi manajemen bisa tiba-tiba dinyatakan tumpul oleh lingkungan dan persaingan. Dan andapun bisa saja tiba-tiba terkena mental block. Seluruhnya terjadi berada di wilayah yang di luar kontrol anda tetapi memiliki implikasi terhadap kehidupan pribadi atau organisasi. Contoh sepele adalah fenomena krisis moneter. Semula hanya orang tertentu yang merasa harus bingung menemukan pemecahannya. Tetapi karena belum ketemu, akhirnya berimbas ke mana-mana termasuk harga barang yang anda konsumsi setiap hari.

Belajar dari gambaran tersebut, maka dibutuhkan feedback system. Di sinilah lahir potret pribadi antara yang reaktif dan proaktif; antara solution-based atau problem-based living; antara realitas permukan dan realitas esensial. Reaktif adalah feedback yang tidak seimbang dan tidak proporsional. Katakanlah jika biasanya anda berangkat ke kantor bisa dengan nyaman tetapi kemudian tiba-tiba musim hujan terus mengguyur sepanjang hari. Bagi sebagian orang, hujan bisa menjadi masalah yang sebesar ukuran bahagia atau nestapa padahal bisa jadi yang benar-benar dibutuhkan hanya sebuah payung atau rompi.

3. Kualitas Ideal

Stabilitas adalah kualitas hidup dan karena berupa kualitas, maka ia berada di alam ideal, bukan realita. Sama halnya seperti kebahagian, kesuksesan atau lainnya. Maksudnya apa? Jadikan ia sebagai acuan pencapaian atau bintang di langit yang anda gunakan cahayanya untuk melangkah di bumi realitas. Sebagai kualitas, maka ia adalah achievement process, bukan one-off target. Bukan wilayah di mana kaki anda akan berakhir, melainkan cara yang anda gunakan menempuhnya, the way of traveling. Ia diberangkatkan dari sebuah paradigma possibility, choice, perbaikan yang berkelanjutan bukan dogma pasti, keniscayaan, atau realitas sebagai kepastian absolut. Sebab kenyataannya, selain kematian tidak ditemukan bentuk masa depan yang pasti. Semoga bermanfaat.

Oleh : Ubaydillah, AN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Juli 2007
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 517,026 hits
%d blogger menyukai ini: