Jejak Lawalangy, Koemo Wuto Sumanomo Liwu

Bahan II: Keterbatasan Logika Formal

Posted on: Juli 9, 2007

Dalam pelajaran kedua ini, kita berharap bisa mengungkap keterbatasan logika formal, dan mendapatkan bagaimana dialektika bangkit karena ujian kritis terhadap ide-ide fundamentalnya. Saat ini kita telah memahami apa yang menjadi dasar logika formal, dan apa yang dicerminkannya dari realita, mengapa menjadi penting dan bermanfaat bagi proses berfikir, dan sekarang kita akan melangkah lebih jauh lagi untuk melihat apa yang menjadi distorsi dalam logika formal serta apa yang harus ditolak dari logika formal. Kita akan melihat sisi yang tak bermanfaat dari logika formal.

Pada bahan pelajaran pertama kita telah menjawab tiga pertanyaan.

1. Apa itu logika? Kita mendifininisikan logika sebagai sebuah ilmu proses berpikir dalam hubungannya dengan semua proses yang lain di dunia ini. Kita telah belajar mengetahui dua sistim penting dalam logika: logika formal dan logika dialektik.

2. Apa itu logika formal? Kita telah belajar memahami bahwa logika formal adalah cara berpikir yang didominasi oleh hukum identitas, hukum kontradiksi dan kukum tak ada jalan tengah (excluded middle). Kita telah paham bahwa ketiga hukum fundamental logika formal tersebut memiliki isi materi dan basis objektif; yang dirumuskan secara eksplisit berdasarkan logika instinktif yang ada pada akal sehat; yang bersisikan aturan-aturan berfikir dalam kehidupan borjuis.

3. Apa hubungan antara logika formal dan logika dialektik? kedua sistim berfikir tersebut tumbuh dan berhubungan di dua tahap yang berbeda dalam perkembangan ilmu-pengetahuan berfikir. Logika formal berkembang secara dialektik dalam evolusi sejarah logika, seperti yang biasa terjadi dalam perkembangan intelektual seseorang. Kemudian logika dialektik muncul sebagai kritik terhadap logika formal, menjatuhkan dan menggantikannya. Logika dialektik menjadi lawan yang revolusioner, mengambil alih dan menjadi solusi.

 

Dalam langkah selanjutnya dari investigasi kita, kita tak akan mendapatkan hasil negatif yang bisa dijadikan alasan keraguan kita sehingga harus menolak seluruh bagian dari logika formal. Sebaliknya, justru kita akan mendapatkan hasil yang paling positif. Walaupun terdapat beberapa kekurangan dalam logika formal, namun terdapat juga beberapa karakter penting yang bisa diambil dari logika formal yang bisa menyempurnakan logika penggantinya, logika dialektik. Sehingga dalam proses pembelahan logika elementer dan pemisahan unsur yang absyah dari yang salah, kita bisa mendapatkan sebuah landasan bagi dialektika. Tindakan kritis dan kreatif, negasi dan affirmasi, saling bergandengan sebagai dua sisi dari proses yang sama.

Kedua gerak penghancuran dan pembentukan dilahirkan tidak saja dalam evolusi logika tapi juga dalam semua proses. Setiap lompatan ke depan, setiap tindakan kreatif melibatkan penghancuran. Agar dapat lahir, seekor anak ayam harus memecahkan kulit telor yang membungkusnya, yang telah menjadi tempat tinggal dan sumber kehidupan pada tahap tertentu. Sehingga, agar mendapatkan ruang bagi kebebasannya dan melanjutkan perkembangan selanjutnya, ilmu berpikir harus menghancurkan kulit pembungkus logika formal.

Logika formal selalu mulai dengan preposisi: A adalah selalu sama dengan A. Kita mengakui bahwa hukum tentang identitas ini mengadung beberapa kebenaran, yang merupakan sebuah fungsi yang tidak bisa dipisahkan dalam pengetahuan berfikir, dan yang selanjutnya digunakan dalam peradaban mansuia di dalam kegiatan sehari-harinya. Tapi sejauh mana kebenaran hukum tersebut? Apakah hukum tersebut bisa terus menjadi penuntun dalam realitas yang menjadi lebih kompleks? Demikian lah, pertanyaan selanjutnya.

Pembuktian salah benarnya setiap preposisi diperoleh dengan melihat realitas objektif dan praktek nyatanya, derajatnya dan isi konkrit yang terkandung dalam preposisi tersebut. Apa kah isinya berhubungan dengan sebuah output yang bisa dihasilkan oleh realitas, sehingga preposisi itu menjadi benar. Jika tidak, maka preposisi tersebut tidak bisa dibenarkan.

Sekarang apa yang bisa kita dapat saat harus berhadapan dengan realitas, bukti apa yang bisa membenarkan kebenaran preposisi: A sama denan A? Ternyata, tak ada sesuatu pun dalam realita yang secara sempurna sama dengan isi preposisi tersebut. Sebaliknya, kebalikan dari aksioma tersebut jauh lebih mendekati pada kebenaran.

Bagaimanapun kita berusaha membuktikan bahwa A sama daengan A—ternyata, kita tidak bisa berhasil secara sempurna. Seperti kata Trotsky: “…meneliti dua huruf tersebut di bawah sebuah lensa pembesar—satu dengan yang lainnya sama sekali berbeda. Namun, orang bisa saja berkeberatan, karena hal-hal lain (misalnya) semata-mata merupakan simbol bagi kuantitas-kuantitas yang sederajat, contohnya, satu pon gula, masalahnya bukan ukuran atau bentuk dari huruf-huruf tersebut.”

“Di samping kecurigaan ekstrim pada nilai praktis. Hal tersebut juga menunjukan ketidakkritisan teoritis. Bagaimana dengan momentum? Hal yang pertama tentu berbeda momentumnya dengan hal yang kedua karena segalanya ada dalam kurun waktu tertentu. Waktu adalah sebuah unsur yang paling fundamental bagi keberadaan. Sehingga aksioma A sama dengan A akan berlaku jika tidak ada perubahan, jika tidak, maka aksioma tersebut tidak akan berlaku”[2]

Itu lah sebabnya beberapa pembela logika formal mencoba membela diri dengan berkata: memang benar hukum identitas tidak bisa absolut, tapi itu tidak berarti kita dapat menolak prinsip tersebut. Kebenaran tersebut adalah absyah walaupun tidak berhubungan dengan realitas. Posisi mereka tidak bisa memahami kontradiksi; justru, dengan demikian, semakin menunjukkan bahwa, dalam pandangan mereka, hukum identitas tersebut hanya berlaku sejauh tidak berhubungan dengan realitas, dan jika berhubungan dengan realitas maka hukum tersebut justru akan mendatangkan kesalahan-kesalahan tertentu.

Seperti yang di kemukakan oleh Trotsky: “Aksioma A sama dengan A menunjukkan suatu titik keberangkatan menuju ke keseluruhan kebenaran pengetahuan kita namun, di sisi yang lain, juga merupakan titik keberangkatan menuju ke keseluruhan kesalahan pengetahuan kita.”[3] Bagaimana mungkin sesuatu hal, yang ada dalam hukum yang sama, menjadi sumber bagi kedua pengetahuan—pengetahuan yang salah dan pengetahuan yang benar? Kontradiksi tersebut dapat dijelaskan oleh fakta bahwa hukum identitas memiliki dua sisi karakter: kesalahan dan kebenaran. Hukum identitas memiliki kebenaran pada batas-batas tertentu. Batasan tersebut dikarenakan karakter esensialnya, yang ditunjukkan oleh perkembangan aktual obyek pertanyaannya. Di sisi lain, dilihat dari tujuan praktis cara pandang tertentu.

Sekali waktu, batasan-batasan tersebut muncul, sehingga hukum identitas tidak lagi tepat dan berbelok menjadi kesalahan. Semakin jauh kita maju tanpa pegangan batasan tersebut, semakin jauh pula hukum identitas tersebut menyeret kita membelok dari kebenaran. Hukum yang lain mungkin akan mengoreksi kesalahan yang semakin banyak tersebut, namun tidak terlepas juga kemungkinannya akan masuk ke persoalan yang lebih kompleks dan yang lebih baru lagi.

Mari kita lihat contohnya. Dari Albany ke New York hanya disusuri oleh sungai Hudson, tak ada yang lainnya. A selalu sama dengan A. Dengan keterbatasan tersebut akan sulit untuk memastikan bahwa sungai Hudson tersebut merupakan satu-satunya sumber air yang ada, dan sama dari hilir sampai muara, sungai Hudson. Setelah sampai di muara pelabuhan New York, ternyata sungai Hudson telah kehilangan identitasnya dan menyatu dengan Samudra Atlantik. Sedangkan air Sungai Hudson, terpecah menjadi beberapa anak-anak sungai yang lain yang, walaupun berasal dari mata air yang sama, tapi memiliki identitas yang berbeda-beda dan materi yang berbeda pula, jauh berbeda dengan sungai Hudson itu sendiri. Sehingga di kedua tempat tersebut—sumber mata air dan muaranya—identitas Sungai Hudson menghilang, tak lagi seutuhnya sama.

Demikian pula halnya dengan kemungkinan hilangnya identitas di sepanjang sungai Hudson tersebut. Identitas sungai tersebut tergantung pada kedua sisi parit yang menahan aliran airnya. Namun, jika sungai tersebut pasang atau surut, atau jika terjadi erosi, maka parit tersebut akan berubah. Hujan dan banjir akan merubah batasan-batasan sepanjang sungai itu secara permanen atau sementara. Walaupun sungai tersebut tetap bernama Hudson, namun isinya tak akan pernah berupa air yang sama. Setiap tetesnya sudah berbeda. Oleh karenanya, sungai Hudson tersebut terus berubah identitasnya setiap saat.

Atau coba kita lihat contoh Dolar yang di kemukakan Trotsky. Kita biasanya mengasumsikan bahwa mata uang Dolar adalah mata uang Dolar itu sendiri. A sama dengan A. Tapi kita mulai sadar sekarang bahwa Dolar sekarang berbeda nilainya dengan dolar pada waktu yang lampau. Dolar tersebut semakin berkurang nilainya. Pada tahun 1942 kemampuan dolar hanya tiga perempat kemampuan pada tahun 1929.

Sepertinya, dolar tidak berubah dan hukum identitas masih bisa di gunakan, tapi, pada saat yang sama, nilainya juga sudah berubah.

“Pemikiran ilmiah kita hanya lah salah satu bagian dari keseluruhan tindakan praktek kita, termasuk teknik-teknik. Dalam konsep-kopsep, eksistensi “toleransi” juga diperkenankan. Toleransi tersebut ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari aksioma A adalah sama dengan A, tapi dengan logika dialektik yang berasal dari aksioma bahwa semua hal selalu berubah. “Akal sehat” dikarakterisasi oleh kenyataan bahwa ia secara sistematis melampaui “toleransi” dialektik.”[4]

Dalam bengkel kerja, toleransi diukur di setiap seperseratus sampai seperseribu setiap incinya, tergantung hasil kerja yang hendak diperolehnya. Sama halnya dengan kerja otak dan konsep-konsep peralatannya. Bila batas atau marjin toleransi kesalahan sudah bisa disetujui, maka hukum logika formal dapat berlaku. Tapi pada saat tidak diizinkan oleh toleransi, maka sebuah alat baru harus dibuat untuk memenuhi batas toleransi yang diperbolehkan. Dalam lapangan produksi intelektual, peralatan tersebut adalah logika dialektik.

Hukum identitas bisa diterapkan dalam toleransi dialektik pada dua arah yang bertentangan. Misalnya, toleransi minimum dan toleransi maximum, sehingga hukum identitas tersebut akan berlangsung semakin absyah atau kurang absyah seperti yang dicontohkan oleh deflasi. Satu Dolar nilainya berlipat, sehingga A tidak sama dengan A, tapi lebih besar dari A. Dan dalam contoh inflasi maka, sekali lagi, satu Dolar tidak sama dengan satu Dolar sebelumnya, menjadi setengahnya. Sekali lagi A tidak sama dengn A, tapi setengah A. Dalam beberapa kasus, hukum identitas tidak lagi menjadi benar tapi menjadi semakin salah, tergantung pada jumlah dan karakter khusus perubahan nilai yang ada. Selain A = A, kita juga melihat kemungkinan A = 2A atau 1/2A.

Perhatikan bahwa kita mulai menguji hukum identitas: A adalah yang kita uji. Yang kita dapatkan, kontradiksi: benar bahwa A = A; tapi benar juga A tidak sama dengan A dan, tambahannya, A bisa menjadi 2A atau 1/2A.

Cara tersebut membuat kita lebih mengenal A. A ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan, pasti, tidak berubah seperti yang dianut oleh akhli logika formal. Mereka hanya melihat penampakannya saja. Dalam kenyataanya, A sangat kompleks dan bisa kontradiktif. Tidak hanya A tapi menyangkut semua hal. Kita tidak bisa menangkap A yang sama karena setiap saat A tersebut berubah menjadi berkurang atau bertambah.

Kau mungkin bertanya: kalau begitu, sebenarnya apa itu A? Jawaban dialektiknya adalah A adalah A atau Non-A. Jika kau melihat A seperti akhli logika formal maka kau hanya akan melihat satu sisinya saja, sisi negatifnya. A sama dengan A adalah sebuah abstraksi yang tidak dapat secara penuh menjadi kenyataan atau ditemukan dalam realitas. Abstraksi tersebut berguna sepanjang kau mengerti batasan-batasannya, dan jika batasan telah tercapai maka segera kita akan mengabaikan logika formal tersebut untuk mendapatkan kebenaran final. Hukum dasar identitas bisa dipegang sebagai cara pandang dan untuk bertindak sehari-hari, tapi hukum itu harus digantikan dengan hukum yang lebih dalam dan kompleks.

Para akhli mekanik akan bertanya: mengapa harus ada batas, apakah peralatan yang dimiliki dalam mekanika telah mencakup kebenaran? Segala hal berlaku dalam kondisi tertentu dan dalam operasi tertentu: sebuah potongan, lengkungan, pendalaman dan lain sebagainya, semuanya ditempatkan pada setiap tahapan proses produksi industri. Kelas buruh menentang batasan-batasan yang nyata dalam setiap peralatan dan mesin. Mereka berhasil mengatasi batasan-batasan tersebut dengan dua cara: menggunakan peralatan yang lain atau mengkombinasikan beberapa peralatan dalam proses produksi.

Berpikir secara esensial merupakan produksi intelektual, dan keterbatasan peralatan berpikir akan menghasilkan cara yang sama. Pada saat kita mentok dengan logika formal maka kita harus menggunakan logika lainnya, yakni logika dialektik, atau mengkombinasikan logika formal dengan logika dialektik untuk mendapatkan kebenaran. Itu lah yang disebut dialektika. Sama seperti peralatan-peralatan di pabrik yang harus dikombinasikan agar bisa mengoperasikan pabrik tersebut. Jadi, kalau kita menginginkan hasil yang paling tepat dalam produkis intelektual kita, maka kita harus mengembangkan ide-ide dialektika itu sendiri.

Jika kita kembali pada abstraksi awal, A sama dengan A, maka kita melihat bahwa ada sebuah kontradiksi dalam perkembangannya. A adalah berbeda dengan dirinya sendiri. Dengan kata lain, A selalu berubah dan perubahan tersebut ke segala arah. A selalu berkembang menjadi berlebih atau berkurang dari A sebelumnya.

Perubahan tersebut memiliki nilai kwalitas tertentu, yang berbeda dari yang sebelumnya, sehingga perlu juga membandingkan kwalitas awal dan kwalitas yang berikutnya dari sesuatu hal yang terus berubah.

Sungai Hudson yang kehilangan identitasnya, menjadi bagian dari samudara atlantik; atau seperti yang terjadi pada mata uang. Mata uang yang semula koin yang bernama mark Jerman telah menjadi kertas cetakan. Dalam bahasa aljabar, A menjadi Minus A. Dalam bahasa dialektikanya perubahan kwantatif menghancurkan kwantitas yang lama sehingga menjadi kwalitas yang baru. “Menentukan titik kritis pada saat yang tepat, saat kwantitas berubah menjadi kwalitas, adalah merupakan suatu tugas yang paling penting serta paling susah di dalam semua bidang pengetahuan, termasuk sosiologi.”

Salah satu dari problem sentral ilmu logika adalah mengetahui dan memformulasikan hukum tersebut. Kita harus mengerti bagaimana perubahan kwantitas akan mendatangkan kwalitas baru dan sebaliknya.

Kita tiba pada satu kesimpulan. Pada saat hukum identitas secara tepat mencerminkan bentuk tertentu realitas, hukum itu juga mendatangkan distorsi kesalahan dalam mencerminkan hal yang lainnya. Lebih jauh lagi, aspek yang salah tidak bisa mencerminkan kenyataan objektif yang ada. Campuran setiap partikel fakta jeneralisasi logika yang mendasar bisa memiliki sisi kesalahan yang serius. Hasilnya, instrumen kebenaran menjadi kesalahan umum.

1 Response to "Bahan II: Keterbatasan Logika Formal"

hmmmmmmmmmmmm……….😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Juli 2007
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 517,026 hits
%d blogger menyukai ini: