Jejak Lawalangy, Koemo Wuto Sumanomo Liwu

Perlu Regulasi Pengendalian tentang Bahaya Merokok

Posted on: Juni 22, 2007

Banyaknya korban yang telah jatuh akibat mengonsumsi rokok dan dampaknya di masa depan membuat perlu adanya regulasi yang mengatur perdagangan rokok atau tembakau di Indonesia. Anggota DPR, Hakim Sorimuda Pohan, di Jakarta (8/5), mengatakan, kondisi sudah sangat mendesak untuk dibentuknya Undang-Undang yang intinya menanggulangi bahaya merokok terhadap kesehatan.

Menurut dia, saat ini DPR sedang mengupayakan agar Rancangan Undang-Undang (RUU) Penanggulangan Dampak Tembakau terhadap Kesehatan yang sudah diajukan Februari tahun lalu, bisa masuk dalam revisi program legislasi nasional (prolegnas) 2007.

Menurut dia, meski sebagian besar anggota DPR termasuk perokok, tetapi dukungan terhadap RUU ini sangat besar. Hingga saat ini sudah ada 224 anggota dari 10 fraksi yang menandatangani surat dukungan agar pembahasan RUU ini bisa segera dilakukan.

RUU ini bertujuan untuk melindungi generasi muda dari bahaya rokok yang semakin mencemaskan. Anggota Fraksi Partai Demokrat (FPD) dan juga berprofesi dokter ini, juga melihat bahaya selain kesehatan yang bisa timbul kalau pengendalian rokok tidak segera dilakukan.

“Kalau negara membiarkan kondisi tanpa aturan ini berlanjut, jumlah orang miskin akan semakin bertambah,” katanya.

Harga rokok yang sangat murah di Indonesia membuat setiap orang termasuk golongan miskin bisa membeli rokok tanpa memedulikan kebutuhan lain yang lebih penting.

Rendahnya cukai rokok, katanya, menjadi pemicu rendahnya harga jual rokok. Saat ini, cukai rokok Indonesia menjadi yang terendah di dunia yakni rata-rata 31,5 persen dari harga jual atau jauh dari cukai negara-negara lain yang mencapai 75-85 persen.

“Cukai rokok di Thailand 79 persen dan Singapura 85 persen,” ujarnya.
Dalam RUU yang segera dibahas, katanya, diusulkan agar cukai rokok naik menjadi 65 persen.

Sangat Pesat

Ketua Pokja Pengendalian Tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr Tuti Soerojo, mengatakan, pertumbuhan jumlah perokok di atas usia 15 tahun di Indonesia tergolong pesat.

Dari tiga tahun (2001-2004) jumlah perokok naik dari 31,3 persen ke angka 34,4 persen atau bisa dikatakan lebih dari 50 juta orang dewasa adalah perokok.

Survei yang dilakukan Global Health Professional Survey (GHPS) tahun 2006 terhadap mahasiswa fakultas kedokteran di Indonesia, menunjukkan hasil yang di luar dugaan. Survei itu melaporkan hampir separuh (48,4 persen) mahasiswa/i kedokteran yang seharusnya menjadi ujung tombak sosialisasi bahaya rokok, mengaku pernah merokok dan sebanyak 9,3 persen yang menyatakan masih merokok hingga sekarang.

Mahasiswa (laki-laki) yang merokok sebanyak 21 persen dan mahasiswi 2,3 persen dengan tingkat kecanduan mencapai 33 persen atau dengan kata lain 1 dari 3 perokok tadi tergolong kecanduan dengan parameter 30 menit bangun tidur langsung merokok. Parahnya, tingkat kecanduan rokok di kalangan mahasiswi (39,4 persen) lebih tinggi dibanding mahasiswa (31,9 persen).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 517,026 hits
%d blogger menyukai ini: