Jejak Lawalangy, Koemo Wuto Sumanomo Liwu

BUNUH SARIAWAN DENGAN TANAMAN

Posted on: Juni 15, 2007

Seriawan memang bukan penyakit mematikan. Namun, kalau penyakit ini
hinggap di mulut, kita jadi sengsara. Untuk mengusirnya, bisa minta
bantuan beberapa jenis tanaman yang mudah ditemukan di sekitar kita.
rumah. Mulut terasa nyeri, tak nyaman, dan di dalamnya muncul luka-luka
menganga. Kalau kondisinya sudah begini, makan jadi tak enak, bicara
pun jadi setengah pelo. Itulah akibat ulah seriawan. Lebih celaka lagi,
bila penyakit rongga di mulut ini menimbulkan komplikasi berupa
selulitis (radang sel) mulut akibat infeksi bakteri sekunder seriawan,
infeksi dental (abses gigi), kanker mulut.
Gejala yang muncul akibat seriawan (atau sering juga disebut sariawan)
sebenarnya bisa saja dicegah dengan menjaga kesehatan mulut. Kalau
sudah kena, biasanya dilakukan pengobatan dengan preparat antihistamin,
antacids, kortikosteroid, atau preparat penyejuk lainnya. Selain itu,
juga hindari makanan panas dan pedas yang sering menambah nyeri “borok”
di mulut tadi.

Daya bunuhnya 5 kali lipat
Dalam ilmu pengobatan tradisional atau alami, dikenal beberapa jenis
tanaman yang sering disebut-sebut mampu menyembuhkan seriawan. Sebut
saja daun sirih, daun saga telik, batang buah jambu mete, buah ketimun,
dan nira aren. Tanaman tersebut bisa dijadikan obat tunggal. Bisa pula
digabungkan, seperti yang telah digunakan sebagai bahan dasar obat
seriawan yang telah dijual bebas. Obat tersebut berbahan dasar daun
saga telik, daun sirih, dan kulit kayu manis.
Kalau mau praktis, membeli obat tersebut memang tepat. Namun,
seandainya di pekarangan kita tumbuh tanaman-tanaman yang memiliki
kemampuan menyembuhkan seriawan, tentu lebih praktis bila membuat
sendiri. Tinggal petik, diolah menjadi obat, lalu digunakan. Tak perlu
lagi repot-repot tancap gas atau naik angkutan umum.
Sebut saja sekarang di halaman rumah tumbuh tanaman sirih (Piper betle
L.). Untuk menjadikannya obat, kita bisa mengunyah satu sampai dua
lembar daun ini sampai lumat. Hasil lumatan dibiarkan beberapa saat
dalam mulut, lalu ampasnya dibuang. Atau, berkumur dengan air
godokannya. Kalau mau, airnya boleh ditelan. Dalam sehari bisa
dilakukan satu sampai dua kali.
Tanaman yang berasal dari India, Sri Lanka, dan Malaysia ini telah
dikenal sejak tahun 600 SM. Pada daunnya yang berbentuk bulat telur
melebar, elips melonjong, atau bulat telur melonjong dengan pangkal
berbentuk seperti jantung dan ujung meruncing pendek ini, terkandung
minyak atsiri yang dapat menguap. Di antaranya yang terbesar chavicol
dan betlephenol. Aroma khas dari daun dan minyak sirih itu gara-gara
kandungan chavicol tadi. Senyawa ini memiliki daya antiseptik yang kuat
dan daya bunuh bakterinya bisa sampai 5 kali lipat fenol biasa.
Daun berukuran panjang 6 – 17,5 cm dan lebar 3,5 – 10 cm ini juga
mengandung allylrocatechol, cineole, caryophyllene, menthone, eugenol,
dan methyl ether. Bahkan, ia berisikan vitamin C dan alkaloid arakene
yang khasiatnya sama dengan kokain. Beberapa tulisan ilmiah juga
menyebutkan, daun sirih mengandung enzim diastase, gula dan tanin.
Namun, daun muda mengandung diastase, gula dan minyak atsiri lebih
banyak ketimbang yang tua. Sementara, taninnya relatif sama.
Senyawa yang membuat daun sirih mampu meredam seriawan memang belum
terlacak. Yang pasti, dalam beberapa buku kuno India dan Yunani,
seperti dikutip Darwis S.N., disebutkan daun yang merupakan bahan utama
menginang ini memiliki sifat styptic (menahan perdarahan), vulnerary
(menyembuhkan luka kulit), stomachic (obat saluran pencernaan),
menguatkan gigi, dan membersihkan tenggorokan. Ada pula yang menyatakan
daun sirih selain memiliki kemampuan antiseptik, juga mempunyai
kekuatan sebagai antioksidasi dan fungisida. Minyak atsiri dan
ekstraknya pun mampu melawan beberapa bakteri gram + dan gram -. Bisa
jadi di antara kemampuan itulah yang membuat penyakit seriawan tidak
betah bertahan.
Saat ini di samping dijadikan salah satu bahan obat seriawan, daun
sirih juga digunakan pada kelompok obat saluran pencernaan, sebagai
ekspektoran, dan kelompok obat mulut dan gigi pada umumnya. Khusus
penggunaannya dalam kelompok obat mulut dan gigi, bisa jadi merupakan
hasil penelitian ilmiah berdasarkan pengalaman empiris masyarakat yang
menggunakannya sebagai obat sakit gigi, peradangan atau pembengkakan
gusi, abses rongga mulut, obat luka akibat pencabutan gigi, atau
sebagai penghilang bau mulut. Tentu saja, termasuk juga sebagai obat
seriawan.
Bisa ditelan
Dalam mengusir si seriawan, sirih bisa juga dipasangkan dengan daun
saga telik atau saga areuy (Abrus precatorius L.). Dengan memberi teman
pada sirih diharapkan daya gempur terhadap seriawan semakin kuat.
Sebab, menurut pengalaman dan hasil penelitian, daun saga pun punya
kemampuan seperti daun sirih. Karenanya, kalau mau menggunakan daun
saga telik saja juga bisa. Daun tanaman setengah belukar yang melilit
ke kiri dan merambat hingga bisa mencapai ketinggian 5 m bila tidak
dipangkas ini, memang termasuk bahan obat seriawan yang bisa
menyembuhkan dengan cepat dan aman.
Pemanfaatannya bisa dengan beberapa cara. Di antaranya dengan mengunyah
daunnya satu atau dua kali sehari hingga sembuh. Jumlah yang dikunyah
ya secukupnya saja. Bisa pula dengan berkumur air godokannya bersama
daun sirih. Atau, dengan meminum air rebusannya. Caranya, dengan
merebus 2 ons daun saga dalam 2 l air hingga airnya tinggal
setengahnya. Air rebusan inilah yang digunakan untuk berkumur dan
ditelan. Rasanya mula-mula pahit, tapi kemudian rasa ini berubah
menjadi manis macam kayu manis. Ramuan ini bisa pula diberi potongan
kayu manis secukupnya.
Menurut Chiang dkk. (1983), seperti dikutip O. Udin S.D. dari Balai
Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, daun tanaman merambat yang
berbiji sebesar kacang kedelai berwarna merah berbintik hitam ini
mengandung abruslactone A., methyl abrusgenate, dan abrusgenic acid.
Sementara, bukti tertulis lain menyebutkan daun tanaman yang dalam
daftar prioritas WHO dinyatakan sebagai tanaman obat terbanyak
digunakan di dunia ini mengandung glycyrhizin (glisirisin). Kadarnya
tak kurang dari 15%. Kurang jelas, apakah asam organik lembut ini yang
mampu melawan seriawan atau senyawa lain. Yang pasti, masyarakat telah
memanfaatkan daun yang ukurannya mirip daun asam ini sejak lama dan
terbukti mampu mengusir “borok” kecil dalam mulut.
Awas, kena getahnya!
Meski tak sepopuler sirih dan saga telik, jambu mete (Anacardium
occidentale L.), yang sering pula disebut jambu monyet karena buahnya
yang menyerupai kepala monyet, ternyata juga cukup mujarab menyembuhkan
seriawan. Tapi yang dimanfaatkan bukan buahnya, melainkan tangkai buah
yang sudah masak. Tangkai buah, yang sering juga disebut buah semu,
membengkak menyerupai buah pir atau jambu air karena mengandung
saribuah dalam jumlah banyak. Bagian ini sering kali digunakan sebagai
salah satu bahan rujak. Atau, dimakan sendiri, sembari ngerumpi setelah
makan siang, dengan dicocoli sedikit garam. Hati-hati, jangan terpilih
yang muda. Buah semu muda masih banyak mengandung getah yang bisa bikin
kulit meradang.
Sebaliknya, buah semu jambu mete yang sudah masak mengandung vitamin C
dalam jumlah amat banyak. Kandungannya bisa mencapai 180 mg/100 g.
Vitamin C yang pekat ini bersifat astringen (menciutkan) luka seriawan,
sehingga kadang-kadang dipakai mempercepat penyembuhan seriawan. Cara
memanfaatkannya adalah dengan memakannya seperti buah biasa. Atau, bisa
pula seperti yang dilakukan orang Ternate tempo dulu, yakni berkumur
dengan air perasannya. Namun, sebaiknya jangan diminum, sebab rasa asam
dan vitamin C-nya yang pekat bisa bikin mulas bila perut tak tahan.
Timun (Cucumis sativus L.), yang sering ditemani tangkai buah jambu
monyet saat dirujak, diam-diam juga bisa menyaingi sang teman dalam
menyembuhkan seriawan. Dengan memakannya setiap hari dalam jumlah cukup
banyak, niscaya buah yang memberi rasa dingin di rongga mulut ini mampu
meredam “panas”-nya seriawan. Kali ini memakannya tentu saja tanpa
bumbu rujak atau sambal terasi, supaya mulut tidak malah jadi
“terbakar”.
Seperti dikutip K. Heyne, Voderman dalam Tijdschr. v. Inl.
Geneeskundigen 1895 mengaku menyaksikan penderita seriawan, yang
berusaha berobat ke Eropa dengan hasil sia-sia. Bahkan, mereka menjadi
kekurangan darah. Mereka akhirnya sembuh sempurna setelah setiap hari
memakan sembilan buah ketimun selama beberapa bulan sembari melakukan
diet ketat terhadap susu, telur, dan anggur. Sayangnya, senyawa yang
dikandung buah yang sangat berair, terutama yang mampu menendang
seriawan, belum diketahui akibat sangat langkanya penelitian yang
dilakukan.
Sementara itu, nira aren (Arenga pinnata Merr.), yang oleh orang Jawa
disebut legen, pun ternyata menurut data empiris bisa mengobati
seriawan. K. Heyne mengutip pernyataan Harloff dalam het Geneeskundig
Tijdschr. dl I halamam 385 menyatakan nira aren bisa mengobati seriawan
dengan hasil yang sering kali menakjubkan. Untuk itu, penderita mesti
minum legen ini tiga gelas setiap hari hingga sembuh. Lagi-lagi,
senyawa apa yang menyebabkan kesembuhan seriawan tadi belum terungkap.
Yang pasti, cairan yang diperoleh dari tandan bunga jantan pohon aren
setelah diiris dan diberi perlakuan fisik ini mengandung kadar gula
cukup tinggi, sehingga tidak baik bagi penderita diabetes.
Masih banyak lagi tanaman yang disebut-sebut punya khasiat
antiseriawan. Namun, penelitian ke arah itu nampaknya masih belum
menarik bagi banyak peneliti. Hal itu nampak dari sangat langkanya
hasil penelitian yang bisa dijadikan rujukan. Untuk sementara, tak ada
salahnya mencoba tanaman-tanaman antiseriawan di atas. Selama
batasan-batasan pemakaiannya diperhatikan, pengaruh buruk bagi
seseorang yang bersamaan waktunya menderita penyakit tertentu bisa
dieliminir. Makan jadi enak, bicara pun tak pelo lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 517,026 hits
%d blogger menyukai ini: