Jejak Lawalangy, Koemo Wuto Sumanomo Liwu

GIGI SAKIT? SEKS PUN TERGANGGU

Posted on: Juni 13, 2007

Sakit gigi? Yang satu ini memang sangat menyiksa. Rasa nyeri yang timbul akibat sakit gigi membuat kita serba susah. Mau makan susah, tidur susah, melakukan apa pun rasanya susah. Tapi tahukah Anda, ada akibat lain yang lebih serius dari nyeri gigi ini, yaitu menurunkan ‘keperkasaan’ pria (disfungsi ereksi). Wah, para pria mesti waspada nih!

Inilah hasil riset ilmiah yang dilakukan drg Hasanuddin Thahir SpPerio dari Bagian Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, bersama rekan sejawatnya, Wardihan Sinrang dari Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Unhas. Hasil penelitian ini dipresentasikan dalam Kongres Dokter Gigi Asia Pasifik (APDC) ke-29 di Jakarta, akhir April lalu.

Dalam kongres itu, Hasanuddin mengatakan, di ruang praktiknya ia kerap menemukan penderita sakit gigi yang mengalami gangguan disfungsi ereksi. Mereka kehilangan kemampuan bercumbu dengan istri ketika rasa nyeri mendera. Hilangnya kemampuan seksual itu berlangsung lama, sepanjang rasa nyeri itu tak teratasi. ”Kalau sakitnya selama sepekan, ya selama itu pula mereka tidak ‘menyentuh’ istri,” kata Hasanuddin.

Tak hanya mendengar keluh-kesah para pasiennya, dokter gigi ini juga tergerak untuk melakukan penelitian. Ia ingin mengetahui lebih dalam bagaimana nyeri gigi memengaruhi kemampuan seksual seorang pria. Penelitian ini melibatkan 35 pria beristri yang mempunyai keluhan nyeri gigi paling sedikit selama sepekan. Usia mereka antara 35-55 tahun. Setelah menjalani perawatan, mereka pun dievaluasi. Sebanyak 10 orang, dinyatakan menderita pulpitis akut yakni nyeri akibat gigi berlubang yang sangat, tujuh orang didiagnosis menderita pulpitis kronis, enam orang mengalami periodontitis akut (radang antara gusi dan gigi), enam orang menderita periodontitis kronis, dan hiperaemia pulpa atau ngilu gigi (6 orang).

Penelitian dilakukan akhir tahun lalu. Data diambil secara lisan (wawancara) dan tertulis. Menurut kedua peneliti ini, dipilihnya responden berusia di atas 35 tahun karena pada pria dengan usia di bawah 35 tahun, nyeri gigi tidak memengaruhi gairah seksual.

Setelah melakukan penelitian, Hasanuddin dan Wardihan menyimpulkan, nyeri gigi akibat pulpitis akut, periodontitis akut, dan hyperaemia pulpa memengaruhi disfungsi ereksi secara bermakna. Ini berbeda pada penderita periodontitis kronis dan pulpitis kronis. Pada mereka, rasa nyeri yang muncul tidak menimbulkan pengaruh signifikan terhadap gairah seksual. ”Dari penelitian ini disimpulkan, nyeri yang ditimbulkan oleh penyakit gigi dan periodontal dapat memengaruhi kehidupan seksual yang selanjutnya menurunkan kualitas hidup seseorang,” tutur Hasanuddin.

Penyebab
Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan seseorang untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk dapat melakukan hubungan seksual secara sempurna. Mekanisme terjadinya disfungsi ereksi disebabkan oleh faktor psikoneuoroendokrin dan faktor vaskuler. Faktor umur, genetik, dan beberapa faktor risiko seperti hipertensi juga ikut berpengaruh.

Rangsang seksual berupa ereksi diawali oleh rangsangan seksual yang terjadi di daerah intragenital maupun ekstragenital. Ereksi yang terjadi tergantung dari rangsangan seksual yang bersumber dari rangsangan psikis maupun fisik, seperti penglihatan, pendengaran, perasaan, atau perabaan. Ereksi terjadi melalui dua mekanisme yang bekerja secara sinergis, yaitu ereksi refleksogenik dan ereksi psikogenik. Ereksi refleksogenik ditimbulkan oleh rangsangan pada daerah penis, sedangkan ereksi psikogenik ditimbulkan oleh rangsangan psikis.

Disfungsi ereksi pada kasus nyeri gigi, menurut kedua peneliti ini, diduga terjadi akibat penghambatan atau penekanan pada syaraf parasimpatis sehingga tidak mampu melepaskan neurotransmitter pada otot polos korpus kavernosum yang selanjutnya menyebabkan dilatasi pembuluh darah perifer.

Selain itu, otak di daerah thalamus dan hypothalamus sudah penuh dengan sensasi nyeri sehingga daerah tersebut tidak mampu mempersepsi sensasi seksual yang diterima, baik melalui rangsang rabaan, visual, imaginasi. Akibatnya, sensasi tersebut tidak dapat diteruskan ke serabut syaraf desenden menuju pusat ereksi di daerah segmen torakolumbal.

Menurut Hasanuddin, dari penelitian ini ditemukan, nyeri gigi akibat pulpitis akut, periodontitis akut dan hiperemia pulpa memengaruhi rangsang seksual sehingga frekwensi hubungan seksual menjadi berkurang secara nyata. Bahkan pada kasus pulpitis akut dan periodontitis akut, hubungan seksual pada minggu pertama dan kedua berkurang antara 90 -97 persen.

Sementara itu, pada penderita periodontal abses, meskipun dapat melakukan hubungan seksual tetapi aktivitas bercumbu dalam hubungan seksual menurun secara nyata. ”Ini berarti, kualitas hidup seseorang dapat terpengaruh akibat nyeri gigi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Juni 2007
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Top Clicks

  • Tak ada

Blog Stats

  • 517,026 hits
%d blogger menyukai ini: